Memek Susu

Kumpulan Foto Bugil Memek 2015

Cerita Dewasa: Maniak Seks – Bagian 1

Foto Bugil Telanjang | Cerita Dewasa: Maniak Seks – Bagian 1. Ini adalah cerita pengalamanku ketika aku baru saja menjadi mahasiswi, aku kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta, disana aku berkenalan dengan Dina. Mahasiswi seangkatanku juga, orangnya biasa-biasa saja. Dengan tinggi 165 /50, rambut hitam sebahu, kulit putih, ceria, dan rada sedikit tomboy dalam penampilannya, karena Wenny berasal dari daerah, maka dia kost tidak jauh dari kampus.

Cerita Dewasa: Maniak Seks – Bagian 1

Foto Bugil Telanjang | Cerita Dewasa: Maniak Seks - Bagian 1

Beberapa kali Dina mengajakku untuk main ketempat kostnya, tetapi aku menolaknya dengan halus karena memang aku tidak sempat. Hingga siang hari itu seusai kuliah. Wenny kembali mengajakku untuk bermain ketempat kostnya, dan entah kenapa. Hari itu aku mengiyakan ajakan Dina itu, mungkin karena akupun sedang bete di rumah dan kebetulan juga aku tidak membawa mobil. Sehingga rada malas juga pakai taxi, kamipun berjalan dari kampus ke tempat kost Dina.

Tidak jauh sih. Tapi harus melewati gang- gang sempit.
Akhirnya kami tiba ditempat kost Dina, menurutku tempatnya tidak terlalu bagus karena hanya merupakan bangunan semi permanen. Terdiri dari beberapa kamar kost. Dan kamar Dina terletak dilantai dua bersama 3 kamar lainnya, tidak terlalu besar kamar Dina itu. Dan di dalam kamar hanya ada sebuah ranjang yang cukup untuk 2 orang. Sebuah lemari pakaian, meja belajar, TV 14 inch, dan ada dvd serta stereo kaset, dan sebuah kipas angin yang ketika dinyalakan. Cukup berisik suaranya.
Setiba di dalam kamar Dina, akupun langsung duduk di tepian ranjang.
“Sorry Mbak. Kamarku berantakan” seru Dina sembari membuka lemari pakaiannya.
“Ah. Lumayan juga Din. Cuman rada panas yaa” jawabku.
“Memang. Panas banget.” sahut Dina.
“Sorry.. Aku ganti baju dulu yaa” sambungnya lagi.
Lalu Dina membelakangiku. Melepas t-shirtnya. Lalu celana jeansnya. Tampak bra dan CD Dina yang berwarna hitam itu. Lalu Dina melepas branya. Sehingga aku dapat melihat punggung Dina yang mulus itu. Lalu ia mengenakan dasternya. Warna merah dengan motif bunga, tanpa lengan tapi cukup pendek menurutku. Karena ketika Dina membungkuk untuk mengambil bra-nya yang terjatuh dilantai. Tampak celana dalam Dina dari belakang, kemudian Dina menarik kursi dan duduk dihadapanku. Dengan kedua kaki diangkat ketepian kursinya dan dalam posisi mengangkang, sehingga kelihatan jelas celana dalamnya itu, aku hanya tersenyum saja melihat itu.

“Sorry yaa.. Aku duduk begini” seru Dina.
“Kita kan sama-sama cewek.” sambungnya lagi.
“Enggak apa-apa kok Din” sahutku, lalu mataku tertuju ke sebuah bingkai foto yang terletak diatas meja belajar Dina.
“Foto siapa tuh Din?” seruku, lalu Dinna mengambil bingkai foto itu dan menyerahkan padaku.
“Cowokku” sahutnya.
Aku memperhatikan foto cowok Dina itu, tidak terlalu ganteng. Bahkan rada berumur, lalu.
“Namanya siapa Din?” tanyaku.
“Mas Eko”
“Berapa umurnya?”
“30 tahun..” sahut Dina.
“Kerja?”
“Iya. Pegawai negeri”
“Sudah lama kamu jalan sama dia?”
“Baru satu tahun”
“Tinggal dimana.?”
“Enggak jauh kok”
“Sering dong dia main ke sini?”
“Mhmm. Seringlah” sahut Dina.
Akupun tersenyum sembari mengembalikan foto itu pada Dina, tiba-tiba.. tok.. tok.. tok.. ada yang mengetuk pintu kamar.
“Wah umur panjang nih orang..” seru Dina.
Lalu ia bangkit berdiri dan membukakan pintu, tampak seorang pria berdiri di ambang pintu. Ternyata dia adalah cowok Dina itu.
“Hai Mas..” sambut Dina manja sembari memeluk dan mengecup bibir Mas Eko
“Mas.. Kenalin temanku. Nia” seru Dina.
Akupun mengulurkan tanganku dan dijabat erat oleh Mas Eko, rada risih juga sih. Karena tampak tatapan mata Mas Eko yang tajam..
“Eko..” sahutnya.

Lalu kami pun mengobrol bertiga di dalam kamar itu, Eko dan Dina duduk di tepian ranjang sementara aku duduk dikursi, dan ternyata Mas Eko itu enak diajak ngobrol. Orangnya humoris, cukup wibawa hanya saja matanya selalu mencuri-curi pandang ke arahku, cuman yang membuat aku merasa risih. Melihat tingkah laku mereka. Karena tidak jarang Mas Eko dalam candanya memegang paha dan mencolek buah dada Dina, sementara Dina hanya mengeliat saja tanpa usaha mencegahnya, bahkan ketika Dina sedang membungkuk untuk mengambil handuk yang terjatuh dilantai. dengan seenaknya Mas Eko mengulurkan tangannya memegang selangkangan Dina dari belakang.
“Auuh..” jerit Dina.
Tetapi dia membiarkan tangan Mas Eko itu meraba selangkangannya dari belakang, lalu Dina membalikkan tubuhnya dan.
“Nakal yaa Mas. enggak enak tuh dilihat Mbak Nia..” seru Dina manja.
“Hehehe.” Mas Eko hanya cengegesan saja.
“Oh iya. Mau pada minum apa nih?” seru Dina.
“Seperti biasalah” sahut Mas Eko.
“Mbak Nia.. Mau minum apa?” tawar Dina
“Mhmm.. Teh botol aja deh” sahutku.
Lalu Dina keluar kamar. Mungkin mau memesan minum, kini tinggal aku dan Mas Eko dalam kamar itu. Mas Eko memandangiku terus. Dan aku merasa risih dipandangin demikian.
“Sudah punya pacar belum?” tanyanya tiba- tiba.
“Belum Mas..” sahutku polos.
“Kok cantik-cantik gini belum punya pacar” serunya lagi.
“Belum kepikiran Mas” sahutku diplomasi.

Lalu Dina masuk kembali ke dalam kamar, dia membawa minumanku, dan dua botol bir yang ternyata untuk Mas Eko, gilaa. siang-siang panas gini minum bir. pikirku.
Lalu kami mengobrol lagi. Dan setelah kusadari 2 botol bir itu telah habis.. Bahkan Mas Eko memesan lagi. Hingga aku lihat sudah lima botol tergeletak dilantai, bukan itu aja. Aku pun melihat Dina ikut-ikutan juga minum bir itu. Kini Mas Eko tambah berani. Ia tidak sungkan-sungkan menepuk pahaku atau bahuku jika sedang ngobrol, sementara Dina cuek saja melihat itu.
Menjelang sore. suasana dalam kamar itu menjadi semakin gerah bagiku, selain udara yang memang panas. tingkah laku Mas Eko dan Dina semakin di luar kontrol saja. Mereka tidak sungkan-sungkan berciuman di hadapanku. Bahkan dalam candanya beberapa kali Mas Eko meremas-remas buah dada Dina sementara Dina membiarkan itu semua. Bahkan dia semakin bersikap menantang.
“Mentang-mentang ada Mbak Nia. Beraninya hanya begitu saja” seru Dina.

Merasa ditantang demikian. tiba-tiba Mas Eko menerkam tubuh Dina sehingga tubuh Dina berada dibawahnya. Lalu dengan ganas Mas Eko menciumi bibir dan leher Dina, Dina hanya cekikikan saja. Sementara aku. Aku merasa semakin gerah saja, apalagi ketika tangan Mas Eko dengan leluasanya meraba-raba paha Dina hingga kepangkal pahanya.
“Ooohh.. Mas.. Uuhh..” rintih Dina.
Akupun memalingkan wajahku. melihat ketempat lain. Risih.. Tapi aku penasaran.
“Aahh. Oohh” rintih Dina lagi.
Akupun segera melirik dan yaa. ampunn.. Tampak Mas Eko telah melorotkan daster Dina sehingga kelihatanlah kedua buah dada Dina itu yang langsung diciumi dengan ganas oleh Mas Eko.

Gilaa.. Apa yang mereka perbuat…

Sementara aku hanya duduk menonton saja. Melihat keganasan Mas Eko dan mendengar rintihan-rintihan Dina. Akupun mulai terangsang.
Tiba-tiba Mas Eko menghentikan ciumannya lalu ia melepas daster Dina itu. Dan menarik lepas celana dalamnya. Kini Dina sudah benar-benar telanjang bulat.
“Sabar Mas.. Sabar. Ada Mbak Nia loh” rintih Dina.
“Biarin” sahut Mas Eko sembari terus menciumi payudara Dina, tampak Mas Eko mulai menciumi perut Dina. Terus ke bawah dan akhirnya berhenti diantara kedua paha Dina yang sudah terpentang lebar itu.
“Aahh. Oohh.” erang Dina panjang sembari kedua tangannya meremas-remas kepala Mas Eko.
Merinding aku melihat adegan itu. Tapi diam- diam aku merasakan CD- ku mulai basah, beberapa kali aku menyedot teh botolku yang sebenarnya sudah habis itu, lalu tampak Mas Eko membuka kemejanya, singletnya, lalu celana panjangnya dan celana dalamnya. Sehingga tampak batang kemaluan Mas Eko yang sudah tegang mengeras itu. Lalu ia mengambil posisi diantara kedua paha Dina.

“Ayo.. Mas.. Ayo.” desah Dina dengan mata setengah terpejam.
“Aaakk. Ohh.” erang Dina panjang.

Tampak Mas Eko kembali menindih tubuh Dina, kini aku menjadi benar- benar salah tingkah. Tidak terbayangkan di depan mata kepalaku sendiri ada adegan begini. Jujur saja akupun mulai terangsang. Apalagi ketika melihat gerakan erotis pinggul Mas Eko yang naik turun itu. Sementara Dina hanya mengeliat-ngliat dengan suara rintihan nikmat keluar dari mulutnya.

Aku sepertinya dianggap tidak ada oleh mereka. Gilaa. Aku ingin keluar dari kamar itu, tapi penasaran. Lalu tampak Mas Eko menyuruh Dina untuk menungging. Dan dengan posisi dogy style.. kembali Mas Eko memasukkan batang kemaluannya ke dalam vagina Dina. Dari posisi ini aku dapat melihat batang kemaluan Mas Eko yang keluar- masuk liang kemaluan Dina.

“Ooh. Terus.. Mas.. Teruss.. Ahh” erang Dina, Mas Eko tampak bergerak seperti mesin saja enggak capek- capek. Sementara Dina mengerang- ngerang keenakan. Ooohh. Pusing kepalaku melihat itu. Kemudian tampak Mas Eko menjilat jari telunjuknya sendiri dan. Ditusukkannya telunjuknya itu ke dalam lobang anus Dina.
“Aaahh. Iyaa.. Iyaa.. Oohh” rintih Dina lagi.
Beberapa kali aku menelan air liurku. Dan akupun mulai gelisah. tiba-tiba..
“Aaaghhkk.. Aku keluar.. Aku keluar maass” Dina mengerang panjang. Tampak tubuh bergetar-getar.
“Cepat sekali kau keluar Din.” seru Mas Eko sembari mencabut batang kemaluannya.
“Ooh.. Enak.. Mass.. Enak..” desis Dina.
“Dimasukin ke sini yaa.” seru Mas Eko sembari mencobloskan telunjuknya dalam-dalam ke dalam lobang anus Dina. Tampak tubuh Dina tersentak kedepan.
“Sudah.. Mas.. sudah. jangan.” sahut Dina sembari menjatuhkan tubuhnya telungkup, tampak batang kemaluan Mas Eko yang masih tegang menantang itu.
“Sama Mbak Nia aja Mass” seru Dina lagi..
Apa.. Aku terkejut mendengar itu, sudah gila.. kawanku ini. Seruku dalam hati. Dan benar saja. Mas Eko menoleh ke arahku. Aku jadi salah tingkah.
“Hehehe. Ayo Nia. Ikutan”

Serunya sembari cengegesan. Aku hanya diam saja sembari berusaha menguasai diri. Lalu Mas Eko turun dari ranjang dan berjalan ke arahku. Berdegup keras jantungku.. Sewaktu melihat batang kemaluan Mas Eko yang terayun-ayun.. Mendekat ke arahku.

“Tidak Mas. Terima kasih” sahutku sembari berusaha tersenyum.
“Aahh. Ayolah” seru Mas Eko. Sembari mengarahkan batang kemaluannya ke mukaku. Gilaa. Jujur.. saat itu aku masih virgin. Belum pernah disentuh laki-laki. Dan kini.. dihadapanku tampak batang kemaluan Mas Eko yang besar itu dan. adegan tadi. membuat pikiranku kacau. “ehh..ehhh..mau apa mas?? seruku”

Tiba- tiba Mas Eko memegang kepalaku dan menekan kepalaku ke arah batang kemaluannya sehingga tubuhku rada membungkuk kedepan. Haa. Gilaa… Tapi. Segera saja tercium aroma batang kemaluan Mas Eko itu bercampur dengan aroma vagina Wenny. Aku hanya diam saja ketika kepala penis Mas Eko menyentuh pipiku. Lalu Mas Eko menggosok-gosokan kepala penisnya itu ke bibirku. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Tetapi disisi lain akupun ingin. Oohh. Tanpa sadar aku menjulurkan lidahku hingga menyentuh ujung batang kemaluan Mas Eko.. Aahh.. Terasa asin.

“Yaa.. Betul Nia.. Jilatin. Yaa.. Begitu.” seru Mas Eko.
Ketika aku mulai menjilati kepala batang kemaluannya. Lalu.
“Buka mulut kamu Nia. Hisap.. Hisapin Nia..” seru Mas Eko lagi.
Entah kenapa aku menurut saja. Akupun membuka mulutku dan membiarkan batang kemaluan Mas Eko masuk. Tetapi aku tidak tahu harus berbuat apa setelah itu.
“Dikulum.. Nia.. Dikulum..” seru Mas Eko lagi.
Akupun menurut. Kukulum batang kemaluan Mas Eko itu. Dan itu membuat Mas Eko kekenakan.
“Aahh.. Yaa.. Begitu..” erangnya.

Bersambung…

Baca Selanjutnya Cerita Dewasa: Maniak Seks – Bagian 2 KLIK DISINI.

anus dina

toge indo bugil telanjang, foto bugil cewek stw cantik, pamer memek istri, foto memek lisna, Foto memek lagi makan, tante bugil lg mandi, bulu ketek stw, tante girang hot, cerita dewasa selingkuh dengan cewek berhijab semok dan payudara gede, cewek lg asik ml, Celana dalam cewek transparan, Nenen montok tante bugil, ibu ibu gendut tetek gede pantat gede bugil, foto cewe pake baju basah, gambar toket lagi nungging, ayu semlohe telanjang, Intip celana dalam cewek, artis muda pake dildo, ngentot memek gadis kota, memek bule cantik
Updated: Juni 9, 2016 — 7:12 am
Memek Susu © 2015